Apakah Khitan Harus Menunggu Masa Baligh

Apakah Khitan Harus Menunggu Masa Baligh? Ini Jawabannya

Sunatpenak.com – Apakah khitan harus menunggu masa baligh? Jika ini juga menjadi pertanyaan Ayah dan Bunda, baca artikel ini sampai selesai untuk tahu jawabannya.

Sunat selalu menjadi topik penting yang banyak diperhatikan orang tua di Indonesia, khususnya mengenai kapan waktu yang tepat untuk melaksanakannya, apakah harus menunggu anak memasuki masa baligh atau bisa dijalankan lebih awal?

Data di lapangan menyatakan jika sebagian besar anak laki-laki menjalani sunat pada usia sekolah dasar, yaitu di rentang 6 hingga 12 tahun. Akan tetapi, panduan dari sisi agama dan temuan medis terkini menunjukkan bahwa pilihan ini tidak selalu menjadi opsi terbaik.

Artinya, banyak orang tua masih kesulitan membedakan mana yang menjadi mitos dan mana yang fakta, bahkan beranggapan bahwa sunat hanya bisa dilaksanakan ketika anak sudah benar-benar memahami maknanya secara utuh. Apakah benar begitu?

Di artikel ini, Ayah dan Bunda akan mengetahui detail tentang pandangan dalam ajaran Islam sekaligus menghubungkannya dengan pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh bagi anak, berikut penjelasannya.

Pelaksanaan Waktu Khitan untuk Anak

Khitan menandai tahapan krusial dalam hidup setiap anak laki-laki. Di Indonesia, masyarakat melaksanakan tradisi ini dengan memadukan pertimbangan agama, manfaat kesehatan, dan kepatuhan terhadap ketentuan hukum. Selain itu, pelaksanaan khitan yang tepat menjadi fondasi penting bagi kedewasaan fisik dan spiritual anak di masa depan.

Namun, banyak orang tua masih ragu menentukan momentum terbaik untuk mengkhitankan putra mereka. Sebagian memilih menunggu hingga masa baligh, sementara yang lain lebih menyukai tindakan sejak dini demi pemulihan yang lebih cepat.

Keraguan itu biasanya muncul karena kekhawatiran akan kesiapan mental anak serta risiko medis yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai prosedur medis modern dapat membantu orang tua mengambil keputusan yang lebih tenang.

Dengan persiapan yang matang, proses khitan akan menjadi pengalaman yang minim trauma dan mendukung kesehatan reproduksi anak di masa depan. Yuk, simak detailnya berikut ini!

1. Perspektif Agama Islam Khitan

Perspektif Agama Islam tentang Khitan

Khitan termasuk dalam fitrah yang sangat dianjurkan agama Islam. Rasulullah SAW menyatakan bahwa khitan adalah salah satu dari lima hal fitrah manusia, bersama dengan merapikan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan membersihkan bulu kemaluan.

Rasulullah SAW sendiri pernah melaksanakan khitan bagi cucunya Sayyid Hasan dan Husain pada usia 7 tahun, yang menjadi contoh bagi umat hingga kini. Khitan juga memiliki dasar sejarah kuat dalam ajaran Islam.

Nabi Ibrahim AS berkhitan pada usia 80 tahun, dan ajaran ini diwariskan hingga umat Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 123 bahwa umat Islam diwajibkan mengikuti agama Nabi Ibrahim AS yang hanif, yang mencakup khitan. Hal ini menunjukkan khitan telah menjadi bagian ajaran agama jauh sebelum masa Rasulullah SAW, dengan makna mendalam terkait kesetiaan kepada Tuhan.

2. Aspek Kesehatan Anak

Aspek Kesehatan

Khitan pada usia dini memberikan manfaat kesehatan signifikan dan optimal dibandingkan dengan masa baligh atau dewasa. Selain untuk mengurangi risiko penyakit seksual menular seperti HPV, herpes, dan sifilis. Khitan juga efektif dalam mencegah fimosis (kulup sulit ditarik) dan balanitis (infeksi kepala penis) yang menyebabkan nyeri dan infeksi berulang.

Jika khitan dilakukan pada masa baligh atau dewasa, proses penyembuhan lebih lama dan menyakitkan karena tubuh sudah dewasa. Risiko komplikasi seperti perdarahan, infeksi, atau gangguan fungsi penis juga lebih tinggi jika tidak dilakukan oleh tenaga medis kompeten. Selain itu, anak atau dewasa yang menjalani khitan pada usia tersebut cenderung merasa cemas atau takut, yang memengaruhi penyembuhan dan kenyamanan psikologisnya.

3. Peraturan Khitan di Indonesia

Peraturan Khitan di Indonesia

Pemerintah Indonesia mengatur ketat praktik khitan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 sebagai pelaksana Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Kementerian Kesehatan menetapkan Pedoman Teknis Pelaksanaan Khitan yang Aman tahun 2025 untuk menstandarisasi kualifikasi tenaga medis dan prosedur steril. Regulasi ini hanya mengizinkan dokter spesialis bedah anak, dokter umum terlatih, atau bidan bersertifikasi untuk melakukan tindakan.

Pemerintah melarang keras praktik khitan oleh tenaga non-medis atau penggunaan metode yang menyimpang dari standar kesehatan. Pengawasan ketat ini bertujuan melindungi hak kesehatan anak dan mencegah komplikasi medis yang fatal. Selain itu, pemerintah memberlakukan sanksi tegas bagi penyedia jasa yang melanggar protokol keselamatan tersebut.

Mitos dan Fakta Tentang Khitan

Banyak informasi beragam tentang khitan yang beredar luas di masyarakat, dan ini tidak jarang membuat orang tua kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang perlu diluruskan. Anggapan lama yang tidak berdasarkan fakta pun sangat sering menghalangi orang tua untuk mengambil keputusan tepat waktu terkait khitan anak.

Pertama, khitan harus ditunda hingga anak baligh, apakah benar begitu? Banyak orang tua berpikir khitan hanya boleh dilakukan saat anak memasuki masa baligh, karena menganggap anak baru bisa memahami makna dan tanggung jawab yang menyertainya.

Pandangan ini kerap dijadikan alasan utama untuk menunda khitan hingga usia remaja atau bahkan dewasa. Padahal pemahaman tentang makna khitan dalam ajaran Islam bisa ditanamkan secara bertahap seiring perkembangan usia anak.

Orang tua perlu menyesuaikan penjelasan khitan dengan tingkat pemahaman anak seiring tumbuh kembangnya. Pendidikan agama dan pembiasaan nilai positif yang berkelanjutan jauh lebih efektif membentuk karakter anak daripada sekadar menunggu usia baligh untuk berkhitan.

Kedua, khitan pada balita berbahaya . Kok bisa? Banyak masyarakat percaya khitan pada balita atau anak kecil memiliki risiko tinggi dan bisa menghambat pertumbuhan fisik.

Khitan pada balita terjamin aman jika ditangani oleh tenaga medis ahli sesuai prosedur. Sistem penyembuhan sel anak yang sangat aktif mempercepat pemulihan luka dalam 3 hingga 7 hari tanpa menghambat pertumbuhan fisik mereka.

BACA JUGA : Penyebab Infeksi kemaluan Pria

Tips Praktis untuk Orang Tua

Ayah dan Bunda bisa mulai mempersiapkan anak jauh sebelum hari khitan tiba, baik dari sisi mental maupun fisik. Lanjut ke pemilihan tempat khitan yang terpercaya dengan tenaga medis berkualitas serta fasilitas yang memadai.

Perawatan setelah khitan menjadi faktor penting supaya penyembuhan berjalan lancar dan tanpa komplikasi. Jaga kebersihan area yang di-khitan dengan cara yang benar sesuai petunjuk dokter, hindari aktivitas berat atau bermain yang terlalu kasar selama beberapa hari, dan berikan makan serta minum yang cukup agar tubuh anak tetap sehat.

Pantau kondisi anak secara rutin , jika muncul tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, atau demam, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan tepat waktu. Dengan persiapan yang matang dan perawatan yang baik, khitan akan menjadi momen positif dalam pertumbuhan anak.

Butuh bantuan untuk merencanakan khitan anak dengan nyaman dan aman? Anda bisa mengunjungi kami di bawah ini!

Website Resmi : sunatpenak.com

Alamat : Klinik Asy-syifa Ngadirojo Wonogiri Manggis, 1 No.11, Manggis, Ngadirojo Kidul, Kec. Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57681

 

Hubungi Kami

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top